ANSWARE SYSTEM VERIFICATION
Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa margin keuntungan di restoran mewah itu sebenarnya sangat tipis. Anda mungkin melihat steak seharga Rp 500.000 dan berpikir pemiliknya kaya raya, tapi mari kita bedah biayanya.
Pertama, bahan baku (food cost). Daging wagyu asli atau bahan impor sudah memakan 30-40% dari harga jual. Kedua, biaya tenaga kerja. Anda tidak membayar sekadar untuk makanan, tapi untuk pelayanan ekselen. Koki eksekutif, sous chef, pelayan yang terlatih, sommelier—semua butuh gaji di atas rata-rata.
Ketiga, sewa tempat dan suasana. Lokasi premium di SCBD atau Senopati sewanya bisa miliaran per tahun. Belum lagi biaya dekorasi, piring keramik impor, dan listrik untuk AC sentral. Seringkali, restoran kelas atas hanya bertahan dari margin penjualan minuman (terutama alkohol). Jadi, jika Anda melihat restoran tutup meski selalu tampak ramai, itu biasanya karena mereka gagal mengelola cash flow, bukan karena kurang pembeli.
Satu hal yang jarang dibicarakan tentang kecerdasan adalah betapa sepinya menjadi orang yang terlalu analitis.
Saya memiliki klien yang memiliki IQ di atas rata-rata. Masalah utamanya bukan pada pekerjaan, melainkan pada hubungan sosial. Ketika orang lain bisa menikmati obrolan basa-basi tentang cuaca atau gosip artis, pikirannya secara otomatis mencari pola, menganalisis motif tersembunyi dari lawan bicaranya, atau melompat ke 5 skenario berbeda tentang bagaimana percakapan itu akan berakhir.
Akibatnya? Dia sering dianggap 'sombong' atau 'tidak asik'. Padahal, otaknya hanya tidak bisa dimatikan dari mode 'problem solving'. Terkadang, ketidaktahuan (ignorance) benar-benar sebuah kebahagiaan (bliss). Orang yang cerdas secara kognitif seringkali butuh usaha ekstra keras hanya untuk 'hadir' pada momen saat ini tanpa memikirkannya secara berlebihan.